'Journey To Boti' Oleh Kelompok Kompas Gramedia: Dari Donasi Buku Hingga Kunjungan Ke Rumah Raja

'Journey To Boti' Oleh Kelompok Kompas Gramedia: Dari Donasi Buku Hingga Kunjungan Ke Rumah Raja

zoom-inlihat foto 'Journey To Boti' Oleh Kelompok Kompas Gramedia: Dari Donasi Buku Hingga Kunjungan Ke Rumah Raja
PosKupangTravel
Raja Boti, Usif Namah Benu menerima cenderamata dari Kelompok Kompas Gramedia

“Ingat, jangan mengambil gambar atau menggunakan hp kalau belum diizinkan oleh raja,” kata Jho mengingatkan kami semua.

Pagar yang terbuat dari kayu-kayu yang disusun terlihat rapi. Pintu kayu dibuka oleh Pak Sefnat yang mempersilakan kami semua untuk masuk ke halaman depan sonaf. Halamannya sangat bersih. Saya bahkan tak melihat ada dedaunan yang jatuh berserakan di halaman.

Di samping kanan terlihat ume kbubu, yakni lopo atau bangunan rumah orang timor.

Kami menuruni tangga berbatu dan berjalan melewati lorong setapak.

Tampak sebuah rumah kayu sederhana namun bersih yang kemudian diketahui sebagai tempat menginap bagi para pengunjung yang datang ke sonaf.

Di sebelah kanan terdapat rumah PKK yang menjual segala bentuk kerajinan tangan masyarakat.

Kami terus berjalan ke bawah.

Dari kejauhan terlihat tiga lelaki sedang duduk di teras rumah kayu, satunya memakai kaos biru muda di ujung kanan, dua lainnya─satu berbaju biru tua dan satunya lagi kemeja krem─sedang mengarahkan pandangan kepada kami.

Kami melepas alas kaki dan masuk menyalami ketiga lelaki tersebut.

Ternyata pria berkaos biru muda tersebut adalah Raja Boti, Usif Namah Benu. Ia tersenyum hangat.

Usif Namah Benu mengenakan kaos biru muda dan sarung Boti asli.

Ia sedang mengunyah sirih pinang.

Pembicaraan pun terjadi di antara Pak Sefnat selaku penerjemah dan raja Boti tersebut.

Pak Sefnat memberikan sirih dan pinang yang kami bawa, kemudian meletakkan uang Rp50Ribu di dalam oko mama, tempat meletakkan sirih pinang dalam adat masyarakat Timor. Menurut Pak Sefnat, raja menerima kedatangan kami, mengizinkan kami menggunakan hp dan kamera untuk berfoto. Laras kemudian mengucapkan terima kasih kepada raja karena sudah menerima kunjungan kami. Kemudian, ia menyerahkan cenderamata bagi raja.

Selanjutnya, giliran Yona yang memberikan dua buah baju dengan foto raja di bagian depan bertuliskan Raja Boti Usif Namah Benu.

Raja tercengang melihat wajahnya, kami pun tertawa bersama.

Kami ingin berfoto bersama, raja pun meminta izin untuk mengganti pakaian kebesarannya.

Sembari menunggu raja mengganti pakaian, saya memandang sekeliling rumah.

Jika pengunjung berpikir akan menemukan rumah raja layaknya istana raja seperti yang ada di televisi, hal itu tak akan ditemukan di tempat ini. Rumah raja ini terbuat dari kayu. Pintunya berwarna putih, desain biru kuning, dan pudar. Dua buah jam dinding ada di sebelah kanan dan kiri atas dekat pintu. Berbagai lukisan juga ada di dinding. Mata saya pun tertuju pada  stiker dari berbagai komunitas yang sudah pernah mengunjungi tempat tersebut. Sebut saja beberapa di antaranya ialah jejak petualang, CNN, Trans7, 1000 Guru, dan beberapa stiker lainnya. Stiker-stiker tersebut bahkan tertempel di atas palang ventilasi pintu rumah.

Foto bersama Raja Boti Usif Namah Benu
Foto bersama Raja Boti Usif Namah Benu (PosKupangTravel)

Raja pun keluar mengenakan baju campuran warna krem dan biru yang terlihat pudar. Sarung Boti masih tetap sama, tentu saja ditambah pengikat kepala. Kami dipersilahkan berfoto bersama sang raja. Usai foto bersama, kami menerima sambutan dalam bentuk sapaan adat secara sahut-bersahutan antara raja dan kedua saudaranya. Setelah itu, Laras, Dono, dan Yona dipakaikan selendang dari raja. Kemudian kami pun dipersilahkan berbincang-bincang. Banyak hal yang kami tanyakan, tentu saja semuanya berkaitan dengan suku Boti.

Suku Boti merupakan suku asli Timor yang masih menjaga warisan budaya nenek moyang mereka. Suku Boti dibagi dalam dua bagian, Boti Dalam dan Boti Luar. Menurut Pak Setnaf, suku boti luar sudah terpengaruh oleh pendidikan dan agama. Namun, suku boti dalam masih mempertahankan kepercayaan asli mereka, yakni Halaika. Dalam pandangan mereka, terdapat dua penguasa yakni penguasa alam semesta yang disebut Uis Pah, dan penguasa alam baka yang disebut Uis Neno. Pak Setnaf pun bercerita, masyarakat suku boti dalam sangat dekat dengan alam. Bahkan, terdapat gong yang hanya dibunyikan saat musim kemarau panjang. Mereka percaya, ketika gong dibunyikan, hujan akan turun seketika.

“Raja menyampaikan bahwa jabatannya sebagai raja itu turun temurun, tidak ada pergantian dari ba’i sampai sekarang untuk menjaga kelestarian asli yang masih terbentuk sampai sekarang. Terus, istilah boti luar dan boti dalam itu bukan dua, melainkan satu. Hanya yang terbentuk ini bapa raja masih tetap pegang budaya asli di Boti, sedangkan dari luar itu mereka jalankan kemudian kembangkan budaya itu. Hari perhentian di sini itu hari ke sembilan, mereka istirahat dan tidak bekerja apa-apa satu hari penuh. Berkumpul dengan masyarakat boti dalam, semua dari yang kecil sampai besar hanya duduk bicara mengenai apa yang harus dikembangkan pada hari kesepuluh,” kata Pak Sefnat menerjemahkan ucapan raja dalam bahasa Dawan tersebut.

“Kadang-kadang dari dalam yang merusak. Dia sekolah atau bernaung di kota, lalu pulang ke kampung tidak kembangkan, namun dia berusaha untuk merusak. Bapa raja menolak itu. Kalau seandainya anak asli yang merusak, dia mau kembangkan yang dari kota itu boleh, tapi jangan bawa hal tersebut merusak di sonaf, apalagi tentang budaya dalam desa,” lanjut guru SD tersebut.

Saya tersenyum sambil bertanya tentang silsilah. Raja pun menjawab lagi.

“Bapa raja bilang banyak sejak turun-temurun, tapi saya sebut empat saja. Dari ba’i raja punya bapa, ba’i raja, bapa raja, dan sementara ini turunan dari mereka untuk melanjutkan kerajaan ke depan. Mata pencaharian suku boti dalam adalah petani dan peternak.”

Laras pun bertanya mengenai upacara adat di Boti. Pak Sefnat pun menjelaskan bahwa ada tiga kali upacara yang dilakukan dalam setahun, yakni saat persiapan kebun, persiapan menanam, dan persiapan panen. Waktu pelaksanaan upacara juga dikondisikan.

Kami berbincang-bincang tak terlalu lama. Saudari raja mempersilakan kami menikmati minuman dan makanan yang disediakan. Kami melangkah masuk ke dalam ruang tamu raja. Dinding ruang tamu dipenuhi dengan foto para pengunjung yang datang.

“Nanti foto kita itu kita cetak terus bingkaikan dan kirim ke sini juga ya,” kata Laras kepada kami. Kami mengiyakan.

Waktu sudah beranjak sore. Kami pamit kepada raja dan keluarga untuk pulang. Kami berterima kasih karena sudah diterima dengan hangat di istana raja. Sebelum pulang, kami mampir membeli kain, tas, dan gelang hasil kerajinan masyarakat Boti yang dijual di rumah PKK tersebut. Di bagian belakang rumah tersebut terlihat seorang mama sedang menenun selendang asli Boti, beberapa lainnya memilah kapas.

“Itu proses buat benang dari kapas,” jelas Pak Setnaf. Kami kagum.

Tepat pukul 16.00 WITA kami meninggalkan Desa Boti. Sungguh suatu pengalaman luar biasa bisa menginjakkan kaki di desa adat dan berbincang langsung dengan kepala suku desa tersebut.

“Semoga destinasi wisata yang ada di NTT bisa terus dikembangkan dan diketahui oleh khalayak umum. Indonesia Timur tidak ketinggalan dari daerah yang lain,” ungkap Dono di akhir perjalanan kami.

Laporan Reporter POSKUPANGTRAVEL.COM, Intan Nuka

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved