'Journey To Boti' Oleh Kelompok Kompas Gramedia: Dari Donasi Buku Hingga Kunjungan Ke Rumah Raja

'Journey To Boti' Oleh Kelompok Kompas Gramedia: Dari Donasi Buku Hingga Kunjungan Ke Rumah Raja

zoom-inlihat foto 'Journey To Boti' Oleh Kelompok Kompas Gramedia: Dari Donasi Buku Hingga Kunjungan Ke Rumah Raja
PosKupangTravel
Raja Boti, Usif Namah Benu menerima cenderamata dari Kelompok Kompas Gramedia

POSKUPANGTRAVEL.COM - Hujan menyambut kedatangan kami pada pukul 11.00 siang di Desa Boti. Jalanan yang sedari awal kering dan berdebu akhirnya basah karena derasnya hujan. Aroma tanah pun tercium kemana-mana. Jalanan yang terjal dan tanah pasir lepas yang licin akhirnya menjadi padat.

Perjalanan 43 kilometer dari pusat kota So’E yang menguras tenaga pun terbayarkan dengan suasana sejuk yang terasa karena banyaknya pepohonan dari ujung gerbang bertuliskan ‘Selamat Datang Di Desa Boti, Welcome To Boti’. Sepertinya alam mendukung kedatangan kami ke tempat sakral ini.

Tiga perusahaan yang tergabung dalam Kelompok Kompas Gramedia yakni Toko Buku Gramedia Kupang, Harian Pagi Pos Kupang, dan Hotel Amaris melakukan kunjungan ke Desa Boti, Kecamatan Ki’e, Kabupaten Timor Tengah Selatan pada Sabtu (14/12/2019). Sebutan untuk grup kecil perjalanan ini ialah Journey To Boti. Adapun anggota grup kecil perjalanan tersebut antara lain Laras Husodo (Store Manager TB Gramedia), Dono Prasetyo (Hotel Manager Amaris), Jhony Simon Lena (Pos Kupang), Yona (TB Gramedia), Klemens (TB Gramedia), Eko (Hotel Amaris), Rere (Hotel Amaris), Bella (Hotel Amaris), Fadly (Hotel Amaris), dan tentunya saya sendiri.

Tujuan kunjungan tersebut ialah memberikan sumbangan buku pada Taman Bacaan Boti sekaligus melakukan wisata budaya ke desa Boti, desa tradisional tempat bermukimnya suku asli Suku Boti yang masih mempertahankan tradisi nenek moyang suku mereka.

Kedatangan kami disambut hangat oleh Ibu Pendeta Mike Tafui, Pak Sefnat Tabun, dan segenap keluarga besar majelis Ebenhaezer Boti.

“Bagaimana perjalanannya?” tanya Pendeta Mike. Sebagian kami tersenyum, sebagian lagi tertawa sambil menjawab, “Lumayan jauh.”

Pendeta Mike pun mengiyakan, meski sebenarnya kami merasa jauh karena kondisi jalan yang belum terlalu bagus. Kemudian, kami pun menikmati minuman dan makanan yang disediakan.

Siang itu dilakukan penyerahan lima buah dos buku sebagai donasi dari Kelompok Kompas Gramedia untuk Taman Bacaan Boti. Penyerahan secara simbolis diberikan oleh Laras kepada Pendeta Mike.

Donasi Buku di Desa Boti, TTS
Donasi Buku di Desa Boti, TTS (ISTIMEWA)

“Ini adalah wujud kepedulian dari Kelompok Kompas Gramedia bahwa kami ingin memberikan inspirasi dan berbagi dengan masyarakat. Walaupun sedikit, tapi perannya untuk meningkatkan literasi dan minat baca masyarakat Boti,” ungkap Laras.

Laras berharap, minat baca anak-anak dan orang tua akan bertumbuh.

“Kiranya mereka bisa mendapatkan sumber-sumber inspirasi baru dan ilmu pengetahuan, agar mereka bisa berkembang dari segi kehidupan dan pendidikan. Semoga bisa jadi berkat untuk masyarakat Boti,” lanjutnya.

Lelaki Solo ini ingin masyarakat memiliki program-program literasi yang rutin dilakukan. Tentu saja campur tangan semua pihak desa sangat dibutuhkan untuk menyukseskan program literasi tersebut.

Perempuan 33 tahun itu tersenyum penuh bahagia saat menerima donasi buku-buku yang diberikan oleh teman-teman Kompas Gramedia. Sebagai seorang perempuan yang gemar membaca, ia ingin anak-anak di sekitarnya pun juga melakukan hal yang sama. Apalagi, minat baca anak-anak masih rendah.

“Kalau sinyal sudah masuk di sini, bisa saja mereka nanti mulai suka baca status di hp. Tapi, mereka sekarang masih susah membaca karena kewajiban anak-anak di sini bantu orang tua, sepulang sekolah ya bantu orang tua berkebun,” cerita Pendeta Mike.

Untuk menghadapi keadaan seperti itu, hal pertama yang akan dilakukan Pendeta Mike ialah memasukkan program membaca dalam program pembelajaran anak-anak katekasasi. Anak-anak akan diwajibkan untuk membaca satu buku setiap satu atau dua minggu, kemudian mereka akan menceritakan kembali isi buku tersebut.

“Supaya mereka bisa belajar untuk mencintai buku,” katanya sumringah.

Tentu saja raut kebahagiaan tak bisa disembunyikan dari wajah manisnya. Ia bercerita percaya diri tentang keinginannya mengembangkan taman baca tersebut. Ia optimis anak-anak akan senang membaca suatu saat nanti. Karena akan pindah ke rumah pastori yang baru, ia berencana akan menjadikan ruang tamu rumah pastori lama sebagai perpustakaan. Sasaran perpustakaan tersebut ialah anak-anak yang berada di wilayah jemaat Ebenhazer Boti karena termasuk yang paling dekat dengan lokasi perpustakaan. Jumlah anak-anak tersebut sekitar 200an jiwa. Namun, perpustakaan itu akan terbuka bagi siapa saja yang ingin datang dan membaca buku nantinya.

“Waktu pertama saya bilang akan bangun perpustakaan, ternyata yang merespon duluan adalah orang tua. Mereka senang karena mereka menganggap anak-anak bisa belajar lebih nantinya,” jelas Pendeta Mike.

Ia pun menyadari, hal ini harus dimulai pula dari majelis jemaat karena minat baca yang masih rendah di kalangan mereka. Hal tersebut tak disalahkan olehnya karena desa berada di pedalaman dan jauh dari kota sehingga masyarakat akan lebih memilih untuk berkebun atau menenun.

“Kalau baca ya sewajarnya saja, baca alkitab. Kalau dapat satu renungan, ya sudah itu saja. Kalau baca sehari-hari itu yang kurang,” tambahnya.

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved