Tempurung Kelapa Bekas Jadi Souvenir Antik Dari Lembata

Tempurung kelapa bekas bisa diolah menjadi souvenir yang cantik dan istimewa. Harganya pun murah.

Pos Kupang/Ricko Wawo
Ones Keraf sedang membuat souvenir dari tempurung kelapa di belakang bengkel Langgem Jaya, simpang Lima Wangatoa, Kota Lewoleba, Kamis (2/1/2020) 

POSKUPANGTRAVEL.COM - Tempurung kelapa bekas sering dibuang atau dibakar karena dianggap sampah.

Hanya sedikit saja warga yang menggunakan tempurung kelapa bekas untuk keperluan rumah tangga.

Namun, di tangan Yunus Kabi Keraf, tempurung kelapa bekas tersebut diolah menjadi souvenir antik yang berkualitas.

Bermodalkan mesin cuci yang rusak, tempurung kelapa bekas disulap menjadi hiasan bunga, asbak, asbak pohon, cangkir, ceret, perahu, celengan boneka, sendok makan, garpu dan beberapa produk pesanan khusus lainnya.

Kerajinan hasil tangan Ones Keraf
Kerajinan hasil tangan Ones Keraf (Pos Kupang/Ricko Wawo)

Usaha kreatif rintisan pria Lamalera, Kabupaten Lembata ini berawal dari kegiatannya mengumpulkan barang elektronik tak terpakai.

Mesin cuci rusak dirancang untuk membuat alat kerja seperti bor dan gerinda.

Ones, sapaan akrabnya, menggunakan dua alat itu sebagai modal kerja, ditambah dengan beberapa alat pendukung lainnya.

Sedangkan bahan dasar seperti tempurung kelapa yang terbuang, bambu tak terpakai, dan sisa-sisa kayu ia peroleh secara gratis.

Untuk hasil karyanya sendiri, bunga hias hasil kombinasi tempurung kelapa, kayu, dan bambu merupakan produk paling mahal.

Harga yang ditawarkan untuk produk tersebut Rp100.000.

Sementara harga untuk produk lainnya berada di kisaran harga Rp15.000 hingga Rp75.000.

Adapun metode penerapan harga bagi Ones ditentukan berdasarkan tingkat kesulitan pembuatan produk, bukan ukuran produk.

Selain antik dan istimewa, semua produk hasil karya Ones dan teman-temannya ini ramah lingkungan.

Ones menjelaskan bahwa tak ada satupun unsur plastik atau bahan kimia dari setiap produk miliknya.

Semua bahan yang digunakan olehnya merupakan bahan alami yang tak beresiko bagi kesehatan konsumen.

Ia melanjutkan, usaha miliknya ini sudah kebanjiran orderan dan harus segera dipenuhi dalam waktu dekat.

Demi mengantisipasi pesanan yang terus meningkat dari hari ke hari tersebut, ia pun dibantu oleh dua orang teman karibnya yang dilatih sendiri olehnya.

“Baru kurang lebih empat bulan saya memulai usaha ini, tetapi pesanan terhadap produk-produk ini perlahan mulai meningkat, bahkan sudah merambah pasar di luar kabupaten," ujar Ones pada POS-KUPANG.COM di Lewoleba, Kamis (2/1/2020).

Tentu saja beberapa karyanya sudah dijual ke luar kota seperti di Kota Kupang dan Maumere.

Hal itu tidak tidak terlepas dari pribadinya yang aktif mempromosikan karyanya melalui media sosial.

Bahkan, kakak iparnya, Elias Keluli Making, juga turut membantu dalam memamerkan kerajinan kreatif itu pada acara-acara komunitas di Kota Lewoleba.

Teranyar, dia mendapat satu stand khusus di area Taman Swaolsa Titen Lewoleba saat gelaran Dies Natalis Hip-Hop Lembata Foundation awal Desember 2019 lalu.

Meski demikian, ada satu hal yang membuat karya Ones terlihat istimewa.

Ones selalu memegang prinsip “kerja sendiri, jual sendiri”.

Oleh karena itu, orang muda paruh baya ini tetap menjaga kualitas dan memperhatikan estetika produknya sendiri.

Bengkel kerja Ones berada di belakang bengkel Langgem Jaya, Simpang Lima Wangatoa, Kota Lewoleba.

Para pengunjung boleh mampir dan melihat-lihat hasil karya Ones dari pukul 09.00 WITA hingga 17.00 WITA. (*)

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved