Yuk Simak 5 Fakta Tradisi Berburu Paus di Lembata, NTT!

Salah satu tradisi unik di Lembata, NTT ialah berburu paus. Tradisi ini sudah dilakukan sejak abad ke 16.

zoom-inlihat foto Yuk Simak 5 Fakta Tradisi Berburu Paus di Lembata, NTT!
Dok. nttprov.go.id
Tradisi berburu ikan paus di Lembata, NTT

POSKUPANGTRAVEL.COM, KUPANG - Selain memiliki keindahan alam yang luar biasa, Nusa Tenggara Timur (NTT) juga memiliki tradisi unik yang sudah mendunia, yakni berburu paus.

Melansir Kompas.com, tradisi berburu paus yang dilakukan oleh masyarakat di Desa Lamalera, Kabupaten Lembata, NTT sudah berlangsung sejak abad ke 16.

Masyarakat setempat percaya bahwa nenek moyang mereka bisa menempati desa tersebut karena dibawa oleh ikan paus biru.

Sehingga, masyarakat  tetap teguh melestarikan tradisi berburu ikan paus di daerahnya.

Namun, tidak semua jenis paus bisa diburu. Waktu berburu paus pun tidak dilakukan sepanjang tahun.

Berikut ini 5 fakta menarik tentang tradisi perburuan paus di Lamalera, Lembata, NTT.

1. Waktu Berburu Paus

Setiap tahunnya, rombongan paus akan bermigrasi dari belahan bumi utara ke bumi selatan dengan salah satu rute yang dilewati ialah Perairan Lembata.

Hal itu terjadi diantara bulan Mei hingga Oktober.

Di rentang bulan itu, masyarakat akan melakukan ritual adat untuk membaca tanda alam mengenai kapan datangnya rombongan paus.

Ritual pertama yang dilakukan ialah ritual adat pembuka prosesi di batu paus karena masyarakat percaya akan mendapat kemurahan (rezeki).

Perburuan tidak dilakukan setiap hari. Perburuan hanya akan dilakukan ketika ada semburan paus yang terlihat.

2. Alat dan Transportasi Yang Digunakan untuk Berburu

Saat melakukan perburuan, alat yang digunakan hanyalah alat tradisional yakni tombak tempuling.

Perahu yang digunakan pun perahu tradisional yang terbuat dari kayu.

Perahu kayu itu disebut peledang.

3. Orang Yang Berburu Paus

Tidak semua orang diperbolehkan untuk berburu paus.

Perburuan dilakukan oleh pria dewasa yang dianggap bisa bertahan beberapa pekan di tengah laut.

Dalam satu perahu terdapat belasan hingga dua puluhan orang dan memiliki peran masing-masing dalam penangkapan.

Yang bertugas menikam tubuh paus dengan tombak tempuling disebut Lamafa.

Ketika paus mendekat, mereka akan menentukan target paus yang bisa diburu dan tidak.

Lamafa akan berdiri di ujung perahu, kemudian melompat dan menikamkan tombak ke tubuh paus.

4. Tidak Semua Paus Diburu

Lama fa tahu membedakan jenis paus yang boleh diburu dan tidak boleh diburu.

Paus yang tidak boleh diburu ialah Paus Biru.

Menurut masyarakat, paus biru memiliki kedekatan dengan masyarakat sehingga paus tersebut disakralkan dan tidak boleh ditangkap.

Selain itu, paus yang tidak boleh diburu ialah paus yang sedang hamil.

Paus yang sedang hamil memang tidak diperbolehkan untuk diburu baik secara adat maupun peraturan lingkungan hidup.

Paus yang boleh diburu ialah paus raksasa berjenis Koteklema atau yang juga dikenal sebagai paus Sperm (Physeter macrocephalus).

5. Hasil Tangkapan Dinikmati Bersama

Hasil tangkapan yang telah didapat tidak diperjualbelikan dengan tujuan komersil.

Sesampainya di daratan, ikan paus tersebut akan dibagi-bagi kepada warga.

Selain itu masyarakat memanfaatkan minyak paus sebagai minyak urut, bahan obat, dan bahan bakar untuk lampu templok.

Hasil tangkapan tersebut juga dibagi untuk janda-janda dan yatim piatu.

Nantinya akan dibarterkan ke pasar-pasar barter, untuk menjadi kebutuhan pokok.

Tradisi menangkap paus merupakan cara warga untuk menyambung hidup.

Wisatawan mancanegara mengenal tradisi ini dengan nama Lamalera Whale Catching Adventure. (*)

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved